Kamis, 02 September 2021

SEMBILAN BELAS TAHUN

Sepenggal narasi ini berasal darinya. Sosok perempuan hebat, tangguh, dan luar biasa. Sebenarnya ia hanyalah gadis desa yang tumbuh di keluarga sederhana. Tapi bagiku menjadi teman hidupnya merupakan anugerah tertinggi yang pernah kudapatkan. Bersamanya memori hidupku lebih berwarna. Kasih cinta yang dituai dari lahir hingga sekarang tak pernah berubah, selalu saja begitu, manis. Teringat sembilan tahun silam, di saat diri masih akrab dengan mainan, belajar hanya seperlunya, bahkan pada satu sisi menjadi ‘Si Bolang’ yang tergila-gila dengan atmosfer sawah. Sadar bahwa diri masih anak-anak, makanya ia tak segan memberiku kebebasan untuk menjelajahi dunia seluas mungkin. Alhasil, aku tumbuh sebagai perempuan yang tak pantang menyerah menghadapi kerasnya kehidupan. 

Dalam aspek religi, ia termasuk salah seorang yang taat akidah. Sejak kecil penanaman nilai-nilai keagamaan telah diperkenalkan kepadaku, bagaimana beradab yang baik, sikap toleransi, hingga pentingnya ibadah sebagai umat yang beragama. Masih terkenang dalam kalbu, beliau selalu mengingatkanku untuk menjadi perempuan yang takut akan Tuhan dengan menjaga batasan-batasan yang dilarang-Nya. Walupun begitu, sejujurnya dia bukanlah orang yang ahli soal agama, tapi aku tahu ia selalu berusaha memberikan pengajaran terbaik demi kebaikan anak-anaknya. Salut, kataku.

Jika berbicara masalah pendidikan, dialah garda terdepan dalam keluarga. Menjadi guru pertama bagi anak tentu bukanlah hal yang mudah bagi seorang perempuan. Setiap guru mungkin hanya bisa mengajarkan satu tambah satu sama dengan dua. Namun hal ini tentu berbeda dengannya. Ia harus mengajarkan hal yang paling dasar kepada anak yang otaknya belum pernah bekerja untuk itu. Hingga akhirnya, pekerjaan yang satu ini dapat dikatakan sangat menguji fisik dan batin. Tapi lagi-lagi wanita tangguh ini telah membuktikan kesabarannya dalam mendidikku. Meski hanya bermodalkan pendidikan SMP, namun ia berhasil mengantarkanku mendapatkan pendidikan terbaik hingga jenjang perguruan tinggi. Hebat, kataku.

Menyangkut perihal ekonomi, ia adalah bendahara yang piawai mengolah keuangan. Segala keperluan rumah tangga, pendidikan, hingga kebutuhan sehari-hari diatur sebaik mungkin hingga kami sekeluarga tidak pernah merasa kelaparan meski berada di tanggal tua. Kerja kerasnyapun dalam mencari nafkah patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, hakikat perempuan yang biasanya duduk cantik di rumah rela ia korbankan demi membantu perekonomian keluarga. Sedikitpun rasa malu tidak nampak dalam dirinya. Seakan setiap tetesan keringatnya mengisyaratkan bahwa kepentingan hidup keluarga adalah prioritas. Luar biasa, kataku.

Tak terasa, beragam kisah telah kami ukir bersama selama sembilan belas tahun. Suka duka kehidupan, pun pahit manis keadaan semuanya menyatu dalam satu album memori yang apik. Di usianya yang kini telah berumur, dimana paras tak seanggun dulu, begitupun tenaga yang tak sekuat dulu ternyata telah banyak nasihat dan kritikan membangun yang telah beliau sampaikan hingga tak mampu jari ini menghitungnya. Malu rasanya ketika respons yang kuberikan hanyalah tutur kata yang tidak baik dan mengabaikan segala perintahnya. Tapi itulah dia, menahan segala amarah dan membalasnya dengan penuh kasih sayang. 

Tulisan ini memang sangat sederhana tapi cukup untuk mewakili betapa sayangnya diri ini kepadanya. Begitupun bait kata ini memang tak seberapa dengan perjuangannya tapi cukup untuk mewakili rasa syukurku sebagai anaknya. Terima kasih mama sudah menjadi perempuan teladan bagiku. Tetaplah menjadi mama terbaik yang selalu menginspirasi anak-anaknya


PROFIL PENULIS

Miftahul Janna. Perempuan kelahiran 24 Maret 2002 ini merupakan mahasiswa Universitas Hasanuddin jurusan Ilmu Komunikasi. Ketertarikannya di bidang kepenulisan berawal saat ia menjabat sebagai ketua Jurnalistik tahun 2019. Baginya menulis adalah perjalanan menjejak sejarah sehingga ia berharap dua tahun kedepan bisa menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang. Selain menulis, ia juga sangat suka dunia kesenian, videografi, dan penyiaran. 

POTRER DIRI ANAK MUDA

Akselerasi pola pikir anak muda

Instan menjadi jalan pintas

Aktualisasi, modernisasi dan ekspektasi hanyalah halu belaka

Membumi pada daya rintisan yang tak kunjung usai


Simpang siur integritas anak muda

Tampak elok walau tak seindah absahnya

Yang maha benar saat menguasai ego

Kemudian enyah ketika keliru


Edukasi dusta anak muda

Daya cengkeram tajam pada satu topik

Nalar berimajinasi adalah bidangnya

Tak peduli benar atau salah

Yang penting syahdu di pelupuk mata


Topeng citra anak muda

Luntang-lantung sana sini

Empati pada kaum lemah

Atas sebuah nama yang mahsyur


Piawai di pandang orang

Namun aslinya bermuka dua

Yang berada bisa belanja nilai

Demi bergantung pada harap tak tentu


Sedang mereka yang rendah

Harus berjuang dan bersahabat

Dengan pahit getir kehidupan

Memaksa beradaptasi dengan lingkungan berkelas

Guna memastikan diri menjadi pantas


Kendati demikian

Mereka berdampingan dalam ranah ketidakpastian

Menyusuri hari esok tanpa tahu jawabnya

Sebab menang bukan dia yang berjebah

Tapi siapa penyunting skenario terhebat dalam hidupnya

JEJAK APIK DARI YASSER

Narasi ini lahir karenanya. Sosok guru, motivator, sekaligus idola bagiku. Dia layaknya mesin bernafas, bak jiwa yang tak kenal lelah, kerap menghilang namun selalu ada di kala orang membutuhkannya, nampak cakap padahal dia adalah satu diantara banyaknya insan yang berpengaruh besar. Kala itu, aku sempat tersuntuk lantaran tekanan dari temanku yang tak kunjung usai. Yang hampir setiap hari mengusikku dengan pertanyaan yang sama hingga membuat kalbuku terdesak. “mita, kapan kita pergi kunjungan redaksi? Soalnya aku sudah memberitahu ibuku tentang ini,” tanya salah seorang temanku. Di sekolah, aku adalah salah satu ketua ekskul. Walaupun dengan potensi yang minim, namun aku tetap berupaya melakukan yang terbaik. “maaf, nanti akan kukabari lagi setelah aku bertemu dengan pembina kita,” jawabku dengan paras yang gusar. Pembina yang kumaksud adalah dia. Namanya Yasser Arafat namun akrab kusapa pung yasser(sebutan “pung” dalam bugis artinya orang yang dihormati).

Aku mencoba bersua namun tak bisa karena beliau selalu sibuk. Akhirnya, aku memberanikan diri bergumam dengannya lewat via WhatsApp. Untungnya, sebelum aku bertanya terlebih dahulu ada percakapanku sehingga aku bisa mengalihkan pembicaraan. Setelah berujar, alhasil aku kembali dengan keputusan yang tak tentu. Dalam khayalku, akankah balasanku akan sepadan lagi dengan  yang lalu?. Aku benar-benar gaduh kala itu.  Yang kupikirkan akhirnya terjadi, persoalan itu kembali menghantuiku hingga membuatnya nyaris selaras dengan soal kimia. Kurang lebih 2 bulan disuguhkan dengan perkara tersebut, akhirnya aku menemukan titik terang. Padahal dalam batinku, mungkin akan lama lagi kudapat responnya. Yang benar saja, dia yang renggang nampak di sekolah bahkan jam tidurnya kadang hanya terbilang menit saja. Namun, masih menyempatkan waktunya mengurus hal yang menurutku tidak kalah penting dengan kesibukannya yang lain. Yang kucerna dari jawabannya bahwa beberapa hari kemudian aku bersama temanku akan melakukan kunjungan redaksi ke ranah yang akhir ini merengkuh penghargaan dalam acara yang bertajuk Indonesia Awards 2019, yah tepatnya di Sulawesi Barat, Kabupaten Majenne.

“agenda saya untuk minggu ini masih padat nak, jadi coba cari pembina yang bisa dampingi,” ujarnya dalam via WA. Walaupun seakan tak bisa kuterima, namun asumsiku berkata urusannya jauh lebih esensial dari ini. Selang 18 menit percakapanku, seketika tatapanku kosong membaca balasannya yang satu ini. Dalam hatiku, jikalau aku dalam situasi ini, mungkin setelahnya aku akan berselang infus di rumah sakit. Yah, beliau mengirimkan jadwal kerjanya selama 7 hari berturut-turut(1 minggu). Waktu yang lumayan lama namun sangat menggurah daya dan pikiran. Apalagi ada sosok perempuan yang menantinya dengan 2 anaknya. Namun, melihat kesibukannya yang super padat siapa sangka tangggungannya tetap terpampang harmonis di berbagai sosial medianya. Setelah membaca agenda tersebut, tak ada jawaban lain selain mengiyakan saja dan berusaha mencari pembina untuk mendampingi keberangkatan kami. Pak Arif selaku wakil kepala sekolah urusan kesiswaan-pun bersedia menyandingi dengan syarat harus pula ber-iringan dengan pembina bagaimana-pun sibuknya. Sepulang dari kegiatan sana sini, aku kembali bersua dengannya. Tidak lebih 5 menit percakapanku, aku lagi-lagi melongo dibuatnya. Pasalnya, letih yang dibawa pulang belum tuntas dan harus dipaksa terulang demi keluarga tercinta. “insyaallah saya akan dampingi, tapi waktunya belum tentu karena mertua saya sedang sakit, jam 9 malam saya tinggalkan rumah dan kembali ke rumah lagi jam 2 malam karena besok ada rapat yang harus saya hadiri,” ujarnya. Mendengar perkataannya, aku hanya bisa tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala. Betul-betul potret diri yang patut dijadikan replika kehidupan. 

SIMPANG SIUR GARIS PENDIDIKAN

Kendati raga sudah layak berkeliaran

Toko, kantor, swalayan pun kembali membentangkan tikarnya

Seakan kehidupan baru tengah dimulai

Namun, bagi yang lemah

Pahit getir kehidupan telah tiba

Era manual bertransformasi menjadi digitalisasi

Belajar dan beragam diskusi semua ada di ujung jari

Para korban PHK hanya bisa duduk termangut memutar otak

Akhirnya terjebak dalam dua pilihan

Antara perut dan pendidikan

Pontang-panting sana sini

Menyusuri setiap jemari sukma kehidupan

Ditambah lagi naik pangkat jadi tenaga pengajar

Dipaksa agar tidak turun tangga

Atau tidak, impian yang telah terbingkai rapi dengan harapan

Mau tidak mau harus dilepas bersama kenangan

Anak Negeri….

Hari ini mungkin bukan harimu

Tapi percalayah, Tuhan adalah sutradara terbaik

Bagi mereka yang berusaha menuju baik.

Belajar dari Rumah, Solusi atau Masalah?


Assalamu’alaikum, perkenalkan saya Miftahul Janna. Seperti diketahui bahwa saat ini kita tengah dihadapkan oleh sebuah wabah yang sangat berbahaya dan manular, yakni covid-19 atau akrab disebut sebagai virus corona. Dampak dari isu inilah yang kemudian melemahkan hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat. Berbagai kebijakan dan regulasi pun terus disuarakan oleh pemerintah guna menekan penyebaran covid-19, salah satunya di bidang pendidikan yakni study from home (belajar dari rumah) yang dimulai pada 16 Maret 2020. Kebijakan ini selaras dengan apa yang disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kabudayaan Republik Indonesia melalui surat edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidiakn dalam Masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19). Saya sebagai mahasiswa yang dipaksa untuk tetap bertahan di tengah pandemi menjadi tantangan tersendiri bagi saya utamanya dalam proses pembelajaran. Tentunya bukan hanya saya saja yang harus menelan kenyataan ini, namun juga semua insan pendidikan di Indonesia bahkan di dunia. 

Belajar dari rumah menjadi salah satu solusi yang diambil oleh pemerintah agar setiap generasi tetap bisa merasakan pendidikan di tengah pandemi. Adapun metode yang diterapkan pada kegiatan belajar dari rumah ini disebut sistem pembelajaran daring (dalam jaringan) atau online. Pada keadaan ini, setiap siswa akan terhubung secara online dengan guru mereka melalui media komunikasi, seperti handphone, laptop, ataupun komputer. Dalam media ini juga setiap guru dapat melakukan pembelajaran yang sama di waktu yang sama pula sehingga mereka dapat memastikan siswa mengikuti pembelajaran di waktu yang sama meskipun berada di tempat yang berbeda. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa teknologi telah menjadi jawaban atas ketidakpastian pendidikan di tengah pandemi.

Terlepas dari itu, nyatanya baik handphone, laptop, ataupun komputer yang digadang-gadang sebagai media pembelajaran ternyata tidak semua orang bisa memilikinya. Bagi yang berada di kelas bawah, mereka harus putar otak agar anaknya tetap mendapatkan pendidikan di tengah keterbatasan ekonomi yang ada. Tinggal di kelas ataspun bukan berarti sudah bisa bernafas lega karena telah terfasilitasi oleh teknologi yang menunjang pembelajaran. Tetapi, para orang tua juga harus menjadi guru kedua bagi anaknya selama belajar dari rumah. Tentu ini menjadi tantangan berat utamanya bagi orang tua yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik sehingga pada satu sisi pekerjaan ini kemudian dibebankan kepada anggota keluarga lain yang tahu dan lebih bisa. Layaknya apa yang saya rasakan sekarang. Selain mengemban diri sebagai seorang mahasiswa, saya juga harus menjadi pengajar bagi keponakan saya yang masih berada pada tingkat sekolah dasar dan hal tersebut cukup membuat saya kewalahan dan lumayan stress. Dari pemaparan berbagai polemik mengenai program belajar dari rumah, lantas apakah langkah pemerintah ini dapat dikatakan solusi atau justru menjadi masalah?

Kegagapan pembelajaran daring memang tidak bisa kita hindari. Namun kita tidak bisa pula menghindari kenyataan bahwa pandemi di masa sekarang menjadikan teknologi sebagai satu-satunya jalan yang bisa ditempuh agar roda ketatanegaraan tetap berjalan. Timbulnya polemik mengenai program belajar dari rumah terjadi karena masyarakat tidak cukup siap dalam menghadapi situasi yang sebelumnya belum pernah dirasakan. Untuk itu, sangat penting bagi pemerintah dalam meningkatkan program yang dicanangkan ini, misalnya membuka layanan gratis pada aplikasi daring, membuat kurikulum berbasis daring, dan pembagian kuota gratis yang menyeluruh ke semua pelajar Indonesia. Ketika hal ini terlaksana dengan baik, maka belajar dari rumah layak dikatakan sebagai solusi efektif pemerintah dalam rangka memutus mata rantai penyebaran covid-19. Semoga pandemi cepat berlalu dan proses belajar bisa kembali seperti semula.

Kita Semua Diuji

  Tenang, tak hanya kamu. Saya juga pernah diuji. Bahkan tiada satu orang pun yang selalu bahagia tanpa hadirnya air mata. Seringkali ujian ...