Sepenggal narasi ini berasal darinya. Sosok perempuan hebat, tangguh, dan luar biasa. Sebenarnya ia hanyalah gadis desa yang tumbuh di keluarga sederhana. Tapi bagiku menjadi teman hidupnya merupakan anugerah tertinggi yang pernah kudapatkan. Bersamanya memori hidupku lebih berwarna. Kasih cinta yang dituai dari lahir hingga sekarang tak pernah berubah, selalu saja begitu, manis. Teringat sembilan tahun silam, di saat diri masih akrab dengan mainan, belajar hanya seperlunya, bahkan pada satu sisi menjadi ‘Si Bolang’ yang tergila-gila dengan atmosfer sawah. Sadar bahwa diri masih anak-anak, makanya ia tak segan memberiku kebebasan untuk menjelajahi dunia seluas mungkin. Alhasil, aku tumbuh sebagai perempuan yang tak pantang menyerah menghadapi kerasnya kehidupan.
Dalam aspek religi, ia termasuk salah seorang yang taat akidah. Sejak kecil penanaman nilai-nilai keagamaan telah diperkenalkan kepadaku, bagaimana beradab yang baik, sikap toleransi, hingga pentingnya ibadah sebagai umat yang beragama. Masih terkenang dalam kalbu, beliau selalu mengingatkanku untuk menjadi perempuan yang takut akan Tuhan dengan menjaga batasan-batasan yang dilarang-Nya. Walupun begitu, sejujurnya dia bukanlah orang yang ahli soal agama, tapi aku tahu ia selalu berusaha memberikan pengajaran terbaik demi kebaikan anak-anaknya. Salut, kataku.
Jika berbicara masalah pendidikan, dialah garda terdepan dalam keluarga. Menjadi guru pertama bagi anak tentu bukanlah hal yang mudah bagi seorang perempuan. Setiap guru mungkin hanya bisa mengajarkan satu tambah satu sama dengan dua. Namun hal ini tentu berbeda dengannya. Ia harus mengajarkan hal yang paling dasar kepada anak yang otaknya belum pernah bekerja untuk itu. Hingga akhirnya, pekerjaan yang satu ini dapat dikatakan sangat menguji fisik dan batin. Tapi lagi-lagi wanita tangguh ini telah membuktikan kesabarannya dalam mendidikku. Meski hanya bermodalkan pendidikan SMP, namun ia berhasil mengantarkanku mendapatkan pendidikan terbaik hingga jenjang perguruan tinggi. Hebat, kataku.
Menyangkut perihal ekonomi, ia adalah bendahara yang piawai mengolah keuangan. Segala keperluan rumah tangga, pendidikan, hingga kebutuhan sehari-hari diatur sebaik mungkin hingga kami sekeluarga tidak pernah merasa kelaparan meski berada di tanggal tua. Kerja kerasnyapun dalam mencari nafkah patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, hakikat perempuan yang biasanya duduk cantik di rumah rela ia korbankan demi membantu perekonomian keluarga. Sedikitpun rasa malu tidak nampak dalam dirinya. Seakan setiap tetesan keringatnya mengisyaratkan bahwa kepentingan hidup keluarga adalah prioritas. Luar biasa, kataku.
Tak terasa, beragam kisah telah kami ukir bersama selama sembilan belas tahun. Suka duka kehidupan, pun pahit manis keadaan semuanya menyatu dalam satu album memori yang apik. Di usianya yang kini telah berumur, dimana paras tak seanggun dulu, begitupun tenaga yang tak sekuat dulu ternyata telah banyak nasihat dan kritikan membangun yang telah beliau sampaikan hingga tak mampu jari ini menghitungnya. Malu rasanya ketika respons yang kuberikan hanyalah tutur kata yang tidak baik dan mengabaikan segala perintahnya. Tapi itulah dia, menahan segala amarah dan membalasnya dengan penuh kasih sayang.
Tulisan ini memang sangat sederhana tapi cukup untuk mewakili betapa sayangnya diri ini kepadanya. Begitupun bait kata ini memang tak seberapa dengan perjuangannya tapi cukup untuk mewakili rasa syukurku sebagai anaknya. Terima kasih mama sudah menjadi perempuan teladan bagiku. Tetaplah menjadi mama terbaik yang selalu menginspirasi anak-anaknya
PROFIL PENULIS
Miftahul Janna. Perempuan kelahiran 24 Maret 2002 ini merupakan mahasiswa Universitas Hasanuddin jurusan Ilmu Komunikasi. Ketertarikannya di bidang kepenulisan berawal saat ia menjabat sebagai ketua Jurnalistik tahun 2019. Baginya menulis adalah perjalanan menjejak sejarah sehingga ia berharap dua tahun kedepan bisa menjadi penulis yang menginspirasi banyak orang. Selain menulis, ia juga sangat suka dunia kesenian, videografi, dan penyiaran.

